Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2011

Pengetahuan Masyarakat Indonesia Tentang HIV/AIDS Masih Rendah

Indonesia adalah salah satu negara dengan angka penularan HIV/AIDS tertinggi di Asia, tetapi sebagian besar anak muda di Indonesia tidak mengetahui sebabnya.
Data dari kementrian kesehatan Indonesia menunjukkan 75 persen warga Indonesia yang berusia antara 15 hingga 49 tahun percaya HIV ditularkan oleh nyamuk. Seperti kebanyakan rekan-rekannya, Ariyanti Tarman yang berusia 26 tahun mengatakan ia tidak memiliki pendidikan seks formal apapun ketika bersekolah.
Ia mengatakan, “Yang paling mendekati adalah pelajaran biologi mengenai reproduksi dan itu saja. Jadi saya mendapat informasi mengenai seks dan isu-isu seputar seks seperti HIV/AIDS dan penyakit seksual menular dari surat-suratkabar, majalah, internet dan juga dari film-film.”
Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia itu umumnya konservatif dan bagi banyak orang membicarakan seks adalah tabu dan pendekatan yang lebih liberal terhadap seks bertentangan dengan sikap-sikap tradisional.
Survei global baru-baru ini mendapati hampir 40 persen remaja Indonesia melakukan hubungan seks dan hampir separuhnya tidak memakai alat kontrasepsi ketika berhubungan seks dengan pasangan-pasangan mereka yang baru.
Pemerintah tampaknya enggan menerapkan pendidikan seks ke dalam kurikulum nasional, Zoya Amirin, seorang psikolog seks terkemuka berusaha menangani masalah itu.
Baru-baru ini Amirin meluncurkan podcast video mengenai isu-isu terkait kesehatan seksual dan berharap itu akan membantu mengatasi kesenjangan pengetahuan tentang seks.
“Kebanyakan riset menunjukkan sebagian besar orang belajar dari film porno, bertanya dari teman dan mereka percaya dongeng-dongeng. Itu adalah sesuatu yang berbahaya. Contohnya, mereka percaya membasuh alat kelamin setelah berhubungan seks, khususnya dengan alkohol bisa mencegah terinfeksi penyakit seksual menular, " ujar Zoya.
Kurangnya informasi dasar mengenai kesehatan seksual dan semakin berkembangnya cerita-cerita burung sejalan dengan semakin menyebarnya HIV/AIDS di seluruh Indonesia.
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional melaporkan tingkat infeksi HIV meningkat di beberapa propinsi termasuk Bengkulu, Papua, Maluku, Aceh dan Banten.
Angka-angka resmi menunjukkan 70.000 warga Indonesia positif terinfeksi HIV tetapi diperkirakan angka sebenarnya bisa mencapai 300.000 orang.

Senin, 17 Oktober 2011

pelayanan gratis tanpa syarat test dan penanganan HIV-AIDS


Klinik Mawar Kota Singkawang memberikan pelayanan gratis tanpa syarat kepada masyarakat yang ingin melakukan test HIV-AIDS, termasuk gratis pelayanan atau penanganan apabila ternyata berdasarkan hasil test orang tersebut terkena HIV-AIDS termasuk dalam pemberian ARV.
     Hal tersebut dijelaskan Ketua Klinik Mawar sekaligus ketua Unit Pelayanan Penyakit Dalam RSU Abdul Azis Kota Singkawang dr. Boedi Enoch, Sp.Ph selaku narasumber dalam Dialog Interaktif yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Singkawang bekerjasama dengan Badan Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, bertempat di Radio Diaros Duta Suara 103,6 FM, Kamis (9/12).
Dr. Boedi Enoch, menyarankan, seyogyanya kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat yang beresiko tertular HIV-AIDS. “Karena mencegah jauh lebih baik dan lebih murah dari pada mengobati, sangat rugi sekali kalau sudah nampak gejala-gejalanya baru sibuk berobat.”
Ia menguraikan, sejumlah gejala awal pengidap HIV-AIDS antara lain mencret atau buang air berkepanjangan, mulut putih, berat badan menurun terus, dan masih banyak gejala-gejala lain. “Supaya lebih pasti ya lewat test, dan masyarakat jangan takut selain gratis test itu tidak sakit hanya seperti digigit semut,” ujarnya.
Usia yang sangat produktif tertular penyakit HIV AIDS adalah 18 tahun sampai dengan 30 tahun mencakup sampai dengan 70 persen dan untuk Kota Singkawang Sendiri sampai sekarang ini terdapat 7 orang pasien yang terinfeksi HIV AIDS dan sekarang sedang kami tangani, ungkap Dr. Boedi.
Pada kesempatan itu pula Pengurus KPAD Kota Singkawang Asnain, S.Sos mengatakan bahwa HIV AIDS hanya sebatas virus yang kebetulan ada dalam tubuh manusia yang tidak bisa disembuhkan dan tidak bisa hilang seumur hidup dan bukan merupakan penyakit kutukan.
Ketua Gerakan Anti Narkoba Anak Sekolah (GANAS) Dr. Sumardi mengatakan kondisi yang rawan terhadap HIV AIDS adalah pada usia remaja mulai dari usia 16 sampai dengan 20 tahun yang penyebarannya melalui narkoba jarum suntik.
“Penggunaan jarum suntik yang digunakan anak sekolah secara bergantian sangat rentan terhadap penyebaran HIV/AIDS,” katanya.